Saturday, November 22, 2014

A Trip to the Past: Museum Kereta Api Ambarawa

Assalamualaikum sahabats ….
Sudah lama bangeet ingin mengunjungi Museum Kereta Api Ambarawa dan selalu aja tertunda karena berbagai hal. Kebetulan Museum ini juga sedang dalam proses renovasinya yang cukup lama. Suatu hari pas balik dari kampus aku baca sebuah spanduk yang bertuliskan “Museum Kereta Api Ambarawa di buka untuk umum per 1 Oktober 2014” dan langsung deh menjadwalkan tepatnya sedikit memaksa abang untuk segera capcuss kesana. 😛

Kami memutuskan berangkat pagi-pagi untuk menghindari macet dan supaya bisa menikmati pemandangan di Jalan Tol Semarang – Ungaran yang ijo royo-royo. Buat yang belum pernah melewati jalan tol ini harus banget deh nyobain. Sementara ini satu-satunya jalan tol di Indonesia yang penuh kelokan, tanjakan, dan pemandangan yang hijau dan menyejukkan ya ada disini. 😉 Jalan tol ini juga membantu banget bagi kita yang ingin bepergian ke Solo dan Jogja dari Semarang yang selama bertahun-tahun terjebak kemacetan parah di daerah Ungaran.

Back to the topic, Museum Kereta Api berada di pusat kota Ambarawa jadi nggak sulit menemukannya. Tepatnya setelah Monumen Palagan Ambarawa, belok ke kiri. Ikuti jalan itu aja dan kita akan sampai. Kalau bingung, pasang aja GPS kalian, insyaallah nyampe juga. 🙂 Sekitar jam 9.00 kami sudah sampai di TKP dan ternyata sudah lumayan banyak pengunjung yang datang. Setelah membayar tiket masuknya, langsung deh kami masuk. 🙂

museum-ambarawa-4
welcome to the Train Museum 🙂

Aku sudah membayangkan akan ada kejutan spesial untuk Nadia, naik kereta api kuno sambil menikmati pemandangan hijaunya persawahan yang dibingkai oleh gagahnya gunung Telomoyo. Sejak aku kecil kereta api kuno ini memang melayani penumpang meskipun dengan jarak yang dekat tapi memang sensasi naik kereta api kuno beda banget dengan kereta api masa kini. Aku yakin pasti Nadia suka banget. Ternyata …..

“Keretanya sudah nggak beroperasi lagi mbak,” kata salah seorang petugas Museum.
Whaaattttt????? Dan penontonpun kuciwa beraattt!!! 🙁

Ternyata kebijakan terbaru dari Museum Kereta Api ini tidak lagi melayani penumpang seperti biasa. Kereta api ini hanya melayani sewa untuk rombongan, yang mana biayanya mencapai Rp. 5.000.000, an. Weleeehhh …… mihiil bingiitss ya. Untung aku belum bilang Nadia kalau kami akan naik kereta, jadi dia nggak merasa kecewa seperti aku. 🙁

Ya sudahlah, kalau memang nggak bisa naik kereta toh kita masih bisa menikmati Museum Kereta Api kan. Museum Kereta Api Ambarawa ini ternyata satu-satunya Museum Kereta Api di dunia yang punya koleksi kereta api cukup lengkap. Bayangkan … kereta api dari tahun 1600an masih tersimpan dan terawat baik di Museum ini.

tampak depan Museum yang dahulu merupakan stasiun kereta api. masih seperti aslinya
tampak depan Museum yang dahulu merupakan stasiun kereta api. masih seperti aslinya

ruang tunggu stasiun
ruang tunggu stasiun

Memasuki gedung Museum ini kita akan langsung merasakan nuansa jadulnya. Ya iyalah … secara bangunan ini di bangun pada tanggal 21 Mei 1873. Saat itu Raja Willem I memutuskan untuk membangun jalur kereta api di kawasan Ambarawa untuk mempermudah pengangkutan tentara, pasokan peralatan militer, dan bahan alam dari Semarang menuju ke kota-kota kecil di sekitarnya, termasuk Jogjakarta.

Bangunan stasiun kereta yang asli masiih dipertahankan, bahkan dengan detail. Ada jam dinding yang berumur sama dengan bangunan ini dan masih berfungsi dengan baik. Ada pula ruang tunggu stasiun lengkap dengan furniture kayu yang kuno dan cantik banget. Semua perlengkapan stasiun kereta api masih tersimpan dengan rapi di ruang pamer museum. Dari mulai mesin tik, mesin kasir, mesin pencetak tiket, bahkan topi para masinis dari berbagai era terdokumentasikan dengan baik. Suka deh sama Museum ini. 🙂

beberapa koleksi mesin kasir yg terpajang di ruang pamer Museum
beberapa koleksi mesin kasir yg terpajang di ruang pamer Museum

semua alat ini masih berfungsi dengan baik lho, padahal di buat tahun 1800an
semua alat ini masih berfungsi dengan baik lho, padahal di buat tahun 1800an

Setelah puas menikmati koleksi Museum di ruang pamer, Nadia sudah sibuk ngajakin kami menengok belasan kereta api yang berjajar di luar. Lokomotif pertama yang menarik perhatianku adalah lokomotif dengan nomor seri C 1240 karena bentuknya yang cukup unik dan berbeda dari lokomotof pada umumnya. Apabila bentuk lokomotif biasanya berbentuk kotak, maka lokomotif C 1240 ini berbentuk seperti tabung. Lokomotif ini dahulu berseri SS (Staatsspoorwegen) 400. Di desain oleh Hartmann Chemnits dan mulai beroperasi sejak tahun 1896. Kecepatan maksimal dari lokomotif ini adalah 55 km/jam dengan tenaga pada rel mencapai 350 kecepatan kuda. Panjang lokomotif mencapai 8.578 meter dengan lebar 2.450 meter. Dengan bentuknya yang unik dan kecepatannya yang tinggi, kereta ini mampu mengangkut balok-balok kayu dalam jumlah besar.

salah satu koleksi kereta uap
salah satu koleksi kereta uap

Kereta Uap CC 50 29 .. meskipun udah nggak bisa jalan masih gagah kalau di foto, di buat ajang selfie pun oke :P
Kereta Uap CC 50 29 .. meskipun udah nggak bisa jalan masih gagah kalau di foto, di buat ajang selfie pun oke 😛

Ada pula lokomotif berseri C. 2821 atau SS (Staatsspoorwegen) 1300 yang dahulu berfungsi sebagai transportasi pengangkut bahan mentah dari beberapa perkebunan. Museum Kereta Api juga berhasil mendapatkan beberapa koleksi baru yang didatangkan dari beberapa tempat di Indonesia. Lokomotif diesel hidrolik D 300 23 yang berasal dari Cepu dan dipindahkan pada tahun 2010, ada pula lokomotif uap B 5112 yang merupakan buatan pabrik Hanomag yang berhasil dioperasikan kembali setelah 30 tahun. Selain itu lokomotif B 2502 dan B 2503 yang hingga saat ini masih aktif menjalankan perannya sebagai kereta api wisata, dengan rute Ambarawa – Tuntang.

museum-ambarawa-13

Jadi semua kereta api kuno yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara memang dibawa ke Museum ini untuk dijadikan sebagai koleksi mereka. Bahkan negara yang pertama kali memproduksi kereta api seperti Belanda dan Swiss sudah tidak lagi memiliki kereta api uap ini lho. Mereka bersedia membayar mahal untuk bisa mengangkut kereta api ini kembali ke negara mereka, dan alhamdhulilah gagal. Salut deh buat pemerintah yang nggak terbuai dengan ratusan ribu Euro. So for those of you who are interested to see those trains … do not hesitate to visit Indonesia. We will welcome you with open arms. 🙂

Aahhh… bahagia deh bisa jalan-jalan ke Museum Kereta Api Ambarawa. Banyak sekali ilmu yang di dapat disini, selain tentunya bahagia karena bisa menghilangkan gatal di kaki karena udah lama nggak jalan hehehe. Semoga kedepannya, makin banyak Museum keren di Indonesia. Jalan-jalan ke Museum itu asyik lho. 🙂

museum-ambarawa-17

No comments:

Post a Comment